Seni mengatakan Tidak atau Jangan (menghayati peran orangtua III)
December 16, 2009 at 8:25 pm | Posted in Hikmah | Leave a commentTags: berkisah, dialog, pasar, pisang, sopyan, toodler
Tulisan ini diambil dari sesi Mas Agi Rahmat di SMPIT Nurul Fajar (Sekolah Ibu Lisda) ketika bertemu dengan orangtua siswa Sabtu, 12 Desember 2009. Selamat menikmati.
+++++++
Todler atau anak berusia sekitar 1 tahunan memang menggemaskan. Sudah nampak mempunyai keiginan-keinginan, tapi masih sangat dekat dengan perilaku bayi sehingga kita akan dengan senang hati memaafkan dan tertawa saja melihat tingkah polahnya.
Tentang anak seperti inilah Pak Sopyan berkisah di sekolah kami pada acara dialog dengan orangtua di sekolah kami.
Suatu hari, anak itu, sebutlah dengan nama Bani, ikut ibunya ke pasar. Digendong. Sepanjang perjalanan Bani tenang saja, mungkin karena senang juga melihat-lihat keramaian pasar. Hingga sesampai di rumah, ibunya baru tersadar bahwa Bani menggenggam sebuah pisang di tangannya. Entah diambilnya di mana. Apa mau dikata, sang ibu kemudian membiarkannya saja.
Esok lusa ketika dibawa ke pasar, kejadian itu terulang lagi. Ada- ada saja yang Bani ambil di pasar dan digenggamnya erat hingga sampai ke rumah. Dan, lagi-lagi sang ibu membiarkannya saja. Mengira itu hanya ketidaksengajaan biasa.. tak perlu dipikirkan benar.
Demikian seringnya Bani mengambil sesuatu dari barang dagangan orang, sehingga kemudian ia menjadi terbiasa dan senang melakukannya. Semakin sulit mengambil sesuatu tanpa diketahui orang lain semakin senang ia. Mengambil milik orang menjadi suatu tantangan yang mengasyikkan.
Akhirnya pada suatu hari ia ingin membuktikan bahwa ia bisa membobol bank. Disusunlah rencana dengan cermat dan ditentukanlah waktunya.
Ketika tiba saat beraksi, ada hal yang meleset dari perhitungan, yang menyebabkan Banu harus berhadap-hadapan dengan penjaga bank yang hendak dirampoknya. Pilihannya membunuh atau dibunuh. Banu membunuh penjaga bank itu, tetapi ia pun tertangkap.
Singkat cerita, Banu divonis hukuman mati. Tahu apa yang diinginkannya sebagai permintaan terakhir? Ia ingin bertemu ibunya. Dan tahu apa yang ia katakan pada sang ibu? …. “Seandainya Ibu dulu melarang saya mengambil milik orang, saya tak akan menjadi seperti ini”..
Nah,.. ini adalah contoh betapa pentingnya seorang ibu cermat dengan apa yang dilakukan anaknya. Kesalahan atau ketidaksengajaan kecil jika terus menerus terjadi akan menjadi perilaku.
Selain itu, dengan cerita ini kita dapat memahami pentingnya mengatakan tidak atau jangan. Umumnya sekarang orang berpendapat bahwa kata ‘ tidak’ dan ‘jangan’ perlu dihindari, diganti dengan kaliimat positif yang setara. Kalimat-kalimat positif memang perlu dan kuat pengaruhnya, tetapi secara seimbang kita perlu juga mengatakan kata Tidak dan Jangan,sebagaimana Al Qur’an juga mengandung kalimat dengan kata Laa.
Wallahu a’lam.
Leave a Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a Reply
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.