Kisah Pengendara Rakit(menghayati peran orangtua I)

December 16, 2009 at 8:18 pm | Posted in Hikmah | Leave a comment
Tags: , , , , , , , , ,

Tulisan ini diambil dari sesi Mas Agi Rahmat di SMPIT Nurul Fajar (Sekolah Ibu Lisda) ketika bertemu dengan orangtua siswa Sabtu, 12 Desember 2009. Selamat menikmati.
+++++++

Pernah naik rakit?
Rakit adalah salah satu alternatif alat transpotrasi yang menghubungkan kampungku (Carangpulang) dengan kampung Pasir Gaok, yang dipisahkan oleh Sungai Cisadane yang lebar. Dari pagi hingga sore rakit ini menyeberang bolak-balik membawa penumpang mulai dari anak sekolah, pekerja, ibu-ibu yang pergi dan pulang belanja ke Ciampea atau siapa pun.

Kira-kira suasana seperti inilah yang digambarkan Pak Agi Rachmat dalam salah satu kisahnya, ketika berkunjung ke sekolah kami untuk berdialog dengan para orangtua siswa SMPIT Nurul Fajar.
Sebetulnya Kisah Pak Agi tentang kampung lain,tentang rakit lain dan tentang dua orang pemuda yang bernama Hasan dan Budi. Keduanya bekerja sebagai pembawa /pengendara rakit tetapi mangkal di tempat yang berbeda.

Nah, suatu hari Hasan didekati oleh seorang nenek tua berpakaian kumal yang ingin menumpang menyeberang tapi tak punya uang. Hasan tak keberatan membawa sang nenek dengan rakitnya. Tentu saja nenek itu sangat berterimakasih dan menawarkan sebuah kotak kepada Hasan sebagai hadiah.
“Di dalam kotak ini ada berlian”, katanya. Tapi Hasan tak begitu tertarik dengan kotak milik si nenek tua yang nampak miskin itu sehingga ia menampik hadiah tersebut dengan sopan :”Tak usah Nek, bawa saja kotak kecil itu bersama nenek”.

Beberapa waktu kemudian Hasan bertemu dengan Budi yang ternyata sudah beralih profesi, menjadi pedagang. Budi bercerita bahwa ia dapat memulai usaha barunya berkat hadiah dari seorang nenek yang ditolongnya menyeberang. Setelah Hasan menanyakan ciri-ciri nenek baik hati itu tahulah ia bahwa nenek itu adalah nenek yang pernah bertemu juga dengannya.

Tinggallah Hasan yang menyesali kesempatan yang tak dapat diulang…Hanya karena tidak percaya…

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari kisah ini?
Sebagaimana Hasan yang tak mau percaya bahwa nenek tua berpakaian kumal itu memiliki berlian, kita pun kadang tak percaya bahwa anak yang Allah amanahkan pada kita adalah ‘berlian’.
Padahal, sesungguhya tiap anak adalah berlian… Sudahkah kita mengasahnya?

( Ya Allah jadikanlah pasangan hidup kami dan keturunan kami menjadi penyejuk hati dan jadikanlah kami menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa).

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.